Langit kala itu, memenuhi selaput mataku, namun ia begitu jauh...

Jumat, 27 September 2013

KEDUDUKAN INTEGRITAS SOSIAL SEBAGAI PENGUBAH PARADIGMA MASYARAKAT


Tema : Peran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Membangun Harkat dan Martabat Bangsa

KEDUDUKAN INTEGRITAS SOSIAL SEBAGAI PENGUBAH PARADIGMA MASYARAKAT
Oleh Siti Rohani Oktavia
(Mahasiswi Program Studi Manajemen 2012 Universitas Pendidikan Indonesia)

Suatu hal yang lumrah ketika status sosial seringkali disandingkan dengan manusia sebagai agen penggerak dan pengubah karakter bangsa. Lantas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang sedemikian rupa sebagai suatu kesatuan disiplin akademik yang terintegrasi dan melibatkan populasi manusia secara menyeluruh dengan lingkungan sebagai habitat yang menjadi timbal balik dalam pemberian kontribusi dan asas kebermanfaatan di semua elemen kehidupan.
Ilmu sosial yang dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) diharapkan dapat memberikan asupan penting yang mampu memberikan materi mengenai kebebasan dan keterbatasan. Ini dimaksudkan bahwa bebas diartikan sebagai suatu eksplorasi manusia (siswa khususnya) dalam menemukan jati dirinya sebagai insan yang berpotensi memberikan kontribusi sesuai kecakapannya serta terbatas dalam artian tidak berlebihan dan tidak melanggar etika dan norma – norma yang ada. Sedangkan untuk tingkat lanjutnya, dimulai dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi yang biasanya diaplikasikan dalam setiap jurusan.
Jika dikaji lebih mendalam, Ilmu Pengetahuan Sosial tidak hanya berkiblat pada satu pokok materi saja namun juga dalam perkembangannya juga disimplifikasikan lagi menjadi beberapa cabang ilmu pengetahuan yaitu meliputi Antropologi yang mempelajari manusia pada umumnya juga dalam hal kebudayaan, Ekonomi yang mempelajari konsumsi, produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat, Geografi yang mempelajari letak dan variasi keruangan atas fenomena fisik manusia di permukaan Bumi, Hukum yang mempelajari sistem aturan yang terlembaga tegas dan mengikat, Linguistik yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa, Politik yang mempelajari tentang ilmu kepemerintahan dengan manusia sebagai penegaknya, Sejarah yang mempelajari  peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan manusia, Sosiologi yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya, serta cabang – cabang lain yang terintegrasi di dalam maupun di luarnya.
Sebagai wujud pendelegasian hak dan kewajiban, manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk yang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain memiliki peran subjektif dan berstruktur. Disinilah masing masing lapisan masyarakat mengatasnamakan dirinya sebagai masyarakat yang bersosial dan berlomba-lomba dalam pencarian martabat dalam status sosialnya. Kaitannya dengan Ilmu sosial yaitu sebagai pilar atau landasan yang mendasari semua keterikatan masyarakat untuk menjadi tolak ukur dalam membatasi perilaku menyimpang yang dapat memperkeruh degradasi moral dan memudarkan sendi – sendi budaya serta karakter bangsa. Untuk itu, diperlukan paradigma yang berkemanusiaan agar dapat menyamaratakan dengan tidak membeda-bedakan antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Atau secara lebih tegas untuk menghindari ketimpangan yang dapat menghancurkan hubungan sosial di masing – masing pihak.
Implementasi dari Ilmu Sosial itu sendiri dapat kita lihat dari contoh kasus tahun 2008 silam. Yaitu kejadian yang dialami seorang Prita Mulyasari yang mengeluhkan layanan kurang memuaskan dari salah satu rumah sakit di kawasan Tangerang. Permasalahan kecil akibat curhatannya yang malah menjadikan petaka bagi dirinya sekaligus merugi secara kesehatan. Bisa kita garisbawahi bahwasanya setiap manusia itu membutuhkan dukungan sosial baik berupa moril dan segala bentuk motivasi lainnya. Terlihat bahwa sejumlah kalangan sampai – sampai membuat inisiatif gerakan “koin untuk Prita” sebagai wujud kepedulian sosialnya. Dapat kita bayangkan begitu mirisnya jika permasalahan ini dibiarkan begitu saja, tanpa ada sedikitpun rasa empati dari segenap masyarakat.
Beranjak dari hal tersebut, rasa mengasihi yang tercermin dari sikap dan perilaku kita tak lepas dari unsur – unsur sosial yang memang pada dasarnya sudah lahir dan mengakar di setiap individu, tinggal bagaimana kita menentukan sikap dalam rangka menumbuhkembangkan rasa solidaritas untuk kebutuhan – kebutuhan yang menyangkut tentang kemasyarakatan.
Menanggapi permasalahan yang tengah terjadi pada tubuh negara Indonesia ini, maka sudah selayaknya paradigma yang kurang baik yang telah mendarahdaging di setiap lapisan masyarakat dewasa ini agar segera diminimalisasi demi terciptanya paradigma baru yang memang benar – benar dapat membudayakan kemajemukan masyarakat Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, pendekatan – pendekatan yang menitikberatkan manusia sebagai pelakunya dapat memberikan pengaruh yang signifikan secara nyata dalam bentuk pengendalian sosial.
Tidak hanya itu, manusia yang sejatinya merupakan aset berharga bagi suatu negara yang dapat menggerakan roda kehidupan tak serta merta mengandalkan ilmu luhur yang ada pada dirinya sendiri. Sangat menjadi percuma jika segala teori yang ia pelajari tidak mampu disosialisasikan dengan baik. Butuh pembekalan yang matang agar manusia mampu membentuk dirinya menjadi insan yang berkepantasan saat ia terjun di tengah – tengah masyarakat. Terkadang ketika seseorang memiliki kecakapan dalam hal bergaul akan menjadi percuma juga apabila ia tidak mampu memasyarakatkan masyarakat. Oleh sebab itu didalam materi Ilmu Pengetahuan Sosial tidak hanya dijelaskan panjang lebar mengenai bagaimana kita memahami sesuatu yang berkaitan dengan sosial melainkan bagaimana kita bertindak dalam sosialisasi tersebut.
Kedudukan integritas sosial dalam mengubah paradigma masyarakat memberikan dimensi yang positif dalam hal pembentukan harkat dan martabat manusia. Mengapa dikatakan demikian? Karena masyarakat yang notabenenya merupakan perpanjangantangan dari setiap barisan pejuang di jaman sebelumnya, dituntut untuk berperilaku kritis dalam menanggapi setiap problematika yang tengah menerjang kondisi sosial kebangsaan.
Para siswa dan mahasiswa dipersiapkan untuk menekankan nilai – nilai kemanusiaan dalam memperjuangkan komitmen menjadi masyarakat yang tunduk dan patuh serta mampu memberikan manfaat yang secara nyata dapat mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi. Di perkuliahan misalnya, mahasiswa dihadapkan pada kondisi yang secara tidak langsung mengantarkannya kepada keadaan sosial yang berbeda – beda, mulai dari mana ia berasal, kebudayaan yang ada, dan segala bentuk diferensiasi yang mengacu kepada kebhinekaan. Maka dari itu aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaharui secara lebih mendalam adalah tentang bagaimana meningkatkan citra positif bangsa Indonesia lewat Ilmu Pengetahuan Sosial agar mampu bersaing dan demikian dapat dihormati oleh bangsa bangsa di luar sana. Dari kompetensi ini diharapkan dapat mengurangi keterlibatan masyarakat dalam tindak kriminal dan segala bentuk penyelewengan masal yang hanya akan berakibat pada pencitraan yang kurang baik dari bangsa ini.
Selanjutnya, indikator yang harus dibenahi secara garis besar adalah penanaman karakter sosial berkemanusiaan yang mampu menjadi tonggak kemajuan masyarakat Indonesia dalam hal memperjuangkan harkat dan martabat di hadapan bangsa - bangsa lain secara global. Dalam penerapannya, dapat diaplikasikan kedalam bentuk pembudayaan nilai – nilai Pancasila yang dikembangkan guna menghindari terjadinya pergeseran paradigma yang kurang selaras dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial.
Untuk menyempurnakan asas – asas berkeadilan sosial tersebut, dibutuhkan individu maupun kelompok yang memiliki integritas dan dedikasi tinggi yang mampu menciptakan perubahan secara mendasar dalam lingkup yang lebih luas. Singkatnya, yaitu mampu menempatkan dirinya secara ramah lingkungan dan mampu menyesuaikan keadaan dimanapun dan kapanpun dengan tanpa membedakan status yang dimiliki oleh tiap kalangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar