Langit kala itu, memenuhi selaput mataku, namun ia begitu jauh...

Jumat, 27 September 2013

KEDUDUKAN INTEGRITAS SOSIAL SEBAGAI PENGUBAH PARADIGMA MASYARAKAT


Tema : Peran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Membangun Harkat dan Martabat Bangsa

KEDUDUKAN INTEGRITAS SOSIAL SEBAGAI PENGUBAH PARADIGMA MASYARAKAT
Oleh Siti Rohani Oktavia
(Mahasiswi Program Studi Manajemen 2012 Universitas Pendidikan Indonesia)

Suatu hal yang lumrah ketika status sosial seringkali disandingkan dengan manusia sebagai agen penggerak dan pengubah karakter bangsa. Lantas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang sedemikian rupa sebagai suatu kesatuan disiplin akademik yang terintegrasi dan melibatkan populasi manusia secara menyeluruh dengan lingkungan sebagai habitat yang menjadi timbal balik dalam pemberian kontribusi dan asas kebermanfaatan di semua elemen kehidupan.
Ilmu sosial yang dijadikan sebagai mata pelajaran untuk siswa dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) diharapkan dapat memberikan asupan penting yang mampu memberikan materi mengenai kebebasan dan keterbatasan. Ini dimaksudkan bahwa bebas diartikan sebagai suatu eksplorasi manusia (siswa khususnya) dalam menemukan jati dirinya sebagai insan yang berpotensi memberikan kontribusi sesuai kecakapannya serta terbatas dalam artian tidak berlebihan dan tidak melanggar etika dan norma – norma yang ada. Sedangkan untuk tingkat lanjutnya, dimulai dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi yang biasanya diaplikasikan dalam setiap jurusan.
Jika dikaji lebih mendalam, Ilmu Pengetahuan Sosial tidak hanya berkiblat pada satu pokok materi saja namun juga dalam perkembangannya juga disimplifikasikan lagi menjadi beberapa cabang ilmu pengetahuan yaitu meliputi Antropologi yang mempelajari manusia pada umumnya juga dalam hal kebudayaan, Ekonomi yang mempelajari konsumsi, produksi dan pembagian kekayaan dalam masyarakat, Geografi yang mempelajari letak dan variasi keruangan atas fenomena fisik manusia di permukaan Bumi, Hukum yang mempelajari sistem aturan yang terlembaga tegas dan mengikat, Linguistik yang mempelajari aspek kognitif dan sosial dari bahasa, Politik yang mempelajari tentang ilmu kepemerintahan dengan manusia sebagai penegaknya, Sejarah yang mempelajari  peristiwa masa lalu yang berhubungan dengan manusia, Sosiologi yang mempelajari masyarakat dan hubungan antar manusia di dalamnya, serta cabang – cabang lain yang terintegrasi di dalam maupun di luarnya.
Sebagai wujud pendelegasian hak dan kewajiban, manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk yang tidak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain memiliki peran subjektif dan berstruktur. Disinilah masing masing lapisan masyarakat mengatasnamakan dirinya sebagai masyarakat yang bersosial dan berlomba-lomba dalam pencarian martabat dalam status sosialnya. Kaitannya dengan Ilmu sosial yaitu sebagai pilar atau landasan yang mendasari semua keterikatan masyarakat untuk menjadi tolak ukur dalam membatasi perilaku menyimpang yang dapat memperkeruh degradasi moral dan memudarkan sendi – sendi budaya serta karakter bangsa. Untuk itu, diperlukan paradigma yang berkemanusiaan agar dapat menyamaratakan dengan tidak membeda-bedakan antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Atau secara lebih tegas untuk menghindari ketimpangan yang dapat menghancurkan hubungan sosial di masing – masing pihak.
Implementasi dari Ilmu Sosial itu sendiri dapat kita lihat dari contoh kasus tahun 2008 silam. Yaitu kejadian yang dialami seorang Prita Mulyasari yang mengeluhkan layanan kurang memuaskan dari salah satu rumah sakit di kawasan Tangerang. Permasalahan kecil akibat curhatannya yang malah menjadikan petaka bagi dirinya sekaligus merugi secara kesehatan. Bisa kita garisbawahi bahwasanya setiap manusia itu membutuhkan dukungan sosial baik berupa moril dan segala bentuk motivasi lainnya. Terlihat bahwa sejumlah kalangan sampai – sampai membuat inisiatif gerakan “koin untuk Prita” sebagai wujud kepedulian sosialnya. Dapat kita bayangkan begitu mirisnya jika permasalahan ini dibiarkan begitu saja, tanpa ada sedikitpun rasa empati dari segenap masyarakat.
Beranjak dari hal tersebut, rasa mengasihi yang tercermin dari sikap dan perilaku kita tak lepas dari unsur – unsur sosial yang memang pada dasarnya sudah lahir dan mengakar di setiap individu, tinggal bagaimana kita menentukan sikap dalam rangka menumbuhkembangkan rasa solidaritas untuk kebutuhan – kebutuhan yang menyangkut tentang kemasyarakatan.
Menanggapi permasalahan yang tengah terjadi pada tubuh negara Indonesia ini, maka sudah selayaknya paradigma yang kurang baik yang telah mendarahdaging di setiap lapisan masyarakat dewasa ini agar segera diminimalisasi demi terciptanya paradigma baru yang memang benar – benar dapat membudayakan kemajemukan masyarakat Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, pendekatan – pendekatan yang menitikberatkan manusia sebagai pelakunya dapat memberikan pengaruh yang signifikan secara nyata dalam bentuk pengendalian sosial.
Tidak hanya itu, manusia yang sejatinya merupakan aset berharga bagi suatu negara yang dapat menggerakan roda kehidupan tak serta merta mengandalkan ilmu luhur yang ada pada dirinya sendiri. Sangat menjadi percuma jika segala teori yang ia pelajari tidak mampu disosialisasikan dengan baik. Butuh pembekalan yang matang agar manusia mampu membentuk dirinya menjadi insan yang berkepantasan saat ia terjun di tengah – tengah masyarakat. Terkadang ketika seseorang memiliki kecakapan dalam hal bergaul akan menjadi percuma juga apabila ia tidak mampu memasyarakatkan masyarakat. Oleh sebab itu didalam materi Ilmu Pengetahuan Sosial tidak hanya dijelaskan panjang lebar mengenai bagaimana kita memahami sesuatu yang berkaitan dengan sosial melainkan bagaimana kita bertindak dalam sosialisasi tersebut.
Kedudukan integritas sosial dalam mengubah paradigma masyarakat memberikan dimensi yang positif dalam hal pembentukan harkat dan martabat manusia. Mengapa dikatakan demikian? Karena masyarakat yang notabenenya merupakan perpanjangantangan dari setiap barisan pejuang di jaman sebelumnya, dituntut untuk berperilaku kritis dalam menanggapi setiap problematika yang tengah menerjang kondisi sosial kebangsaan.
Para siswa dan mahasiswa dipersiapkan untuk menekankan nilai – nilai kemanusiaan dalam memperjuangkan komitmen menjadi masyarakat yang tunduk dan patuh serta mampu memberikan manfaat yang secara nyata dapat mengurangi kesenjangan sosial yang terjadi. Di perkuliahan misalnya, mahasiswa dihadapkan pada kondisi yang secara tidak langsung mengantarkannya kepada keadaan sosial yang berbeda – beda, mulai dari mana ia berasal, kebudayaan yang ada, dan segala bentuk diferensiasi yang mengacu kepada kebhinekaan. Maka dari itu aspek yang perlu ditingkatkan dan diperbaharui secara lebih mendalam adalah tentang bagaimana meningkatkan citra positif bangsa Indonesia lewat Ilmu Pengetahuan Sosial agar mampu bersaing dan demikian dapat dihormati oleh bangsa bangsa di luar sana. Dari kompetensi ini diharapkan dapat mengurangi keterlibatan masyarakat dalam tindak kriminal dan segala bentuk penyelewengan masal yang hanya akan berakibat pada pencitraan yang kurang baik dari bangsa ini.
Selanjutnya, indikator yang harus dibenahi secara garis besar adalah penanaman karakter sosial berkemanusiaan yang mampu menjadi tonggak kemajuan masyarakat Indonesia dalam hal memperjuangkan harkat dan martabat di hadapan bangsa - bangsa lain secara global. Dalam penerapannya, dapat diaplikasikan kedalam bentuk pembudayaan nilai – nilai Pancasila yang dikembangkan guna menghindari terjadinya pergeseran paradigma yang kurang selaras dengan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial.
Untuk menyempurnakan asas – asas berkeadilan sosial tersebut, dibutuhkan individu maupun kelompok yang memiliki integritas dan dedikasi tinggi yang mampu menciptakan perubahan secara mendasar dalam lingkup yang lebih luas. Singkatnya, yaitu mampu menempatkan dirinya secara ramah lingkungan dan mampu menyesuaikan keadaan dimanapun dan kapanpun dengan tanpa membedakan status yang dimiliki oleh tiap kalangan.

Peran dan Fungsi Manajemen Kepemimpinan dalam Kelangsungan Organisasi


PERAN DAN FUNGSI MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
DALAM KELANGSUNGAN ORGANISASI
Oleh : Siti Rohani Oktavia
ABSTRAK
            Dalam menghadapi sebuah tantangan yang mengglobal pada tubuh tiap-tiap elemen, khususnya yang terjadi pada kelangsungan organisasi dalam rangka meningkatkan kualitas peran dan fungsi kepemimpinan, dimana semua bagian yang terintegrasi dalam organisasi tersebut dapat menjunjung tinggi asas kebermanfaatan dengan melaksanakan empat fungsi umum dari manajemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi setiap kinerja yang akan menjadi penunjang keberhasilan dan kemajuan suatu organisasi. Namun, pada hakikatnya keberhasilan dan kemajuan tersebut tetap memandang keaktifan seorang pemimpinnya, sejauh mana ia dapat memaksimalkan perannya, menempatkan hak dan kewajiban dirinya dan anggotanya, memberikan penghargaan dan dorongan, serta mampu menjadi tolak ukur atau cermin bagi kelangsungan organisasi.
            Berdasarkan kepentingannya, tidaklah mudah untuk mengubah paradigma yang telah melekat pada pribadi masing masing individu tersebut. Akan tetapi, sebuah gebrakan yang ideal dapat membantu memperjelas asumsi asumsi yang mampu mengubah nilai-nilai yang dianggap kurang baik menjadi sebuah paradigma baru yang dapat meningkatkan semangat juang dan etos kerja.

Kata Kunci : Manajemen Kepemimpinan, Kelangsungan Organisasi


A.  Pendahuluan
Manajemen tak ubahnya sebagai suatu ilmu dan seni yang sudah sejak lama hidup dan berkembang dalam masyarakat. Masyarakat sebagai ken object atau lazimnya disebut sebagai objek kajian dalam manajemen tak lepas dari aktivitas organisasi yang secara naluri merupakan suatu tuntutan mulia sebagai makhluk sosial.
Dalam perkembangannya, suatu manajemen yang umurnya sudah setua peradaban manusia memiliki jenis, peran, dan fungsi masing-masing, satu diantaranya ialah manajemen kepemimpinan yang erat kaitannya dengan manusia dalam kehidupan berorganisasi, dalam rangka membentuk generasi yang memeiliki semangat juang dan etos kerja yang berkompeten dan berkembang.
Setiap pribadi adalah pemimpin, baik untuk dirinya ataupun orang lain. Peran pemimpin itu seniri sangatlah penting karena suatu organisasi itu dikatakan maju dilihat dari kualitas pemimpinnya, seperti apa dan bagaimana seorang pemimpn itu merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi kinerja para anggotanya. Namun, pada kenyataannya tidaklah banyak pemimpin yang seperti itu pada saat ini. Mengingat kurangnya rasa peduli dan menumbuhnya rasa malu tampil di muka umum meneyebabkan menipisnya variasi dalam setiap kualitas pemimpin. Akibatnya, generasi saat ini cenderung pasif dan individualistis, cukup jarang ditemukan bibit yang unggul. Sehingga dapat dikatakan bahwa kelangsungan organisasi tersebut membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menjalankan peran dan fungsi dari kegiatan manajerialnya dengan baik.
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas, yaitu sebagai berikut.
1.   Apa saja peran dan fungsi manajemen kepemimpinan pada kelangsungan organisasi?
2.   Bagaimana pengaruh seorang pemimpin dalam suatu organisasi?

B.  Landasan Teori
Pada hakikatnya, kepemimpinan itu ialah sebagai bagian dari proses manajemen untuk membentuk tujuan-tujuan organisasi, memotivasi perilaku ke arah pencapaian tujuan tersebut demi kemakmuran dan kesejahteraan para anggota yang berada di bawahnya dalam suatu ruang lingkup organisasi yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, pengaruh dari seorang pemimpin itu sangatlah bergantung pada perspektif anggota-anggotanya, karena pada dasarnya seorang pemimpin itu ialah sebuah ikon ataupun contoh bagi bawahannya. Mulai dari kebijakan yang ia ambil merupakan titik tolak yang dapat mengukur seberapa jauh pengetahuan dan wawasan yang ia miliki.
Seperti yang kita ketahui, seorang pemimpin dalam organisasi itu memiliki wewenang yang dominan dari anggotanya, keberhasilan sebuah organisasi ada pada upaya seorang pemimpin itu sendiri bagaimana ia merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi kinerja sekelompok orang tersebut dengan bantuan berbagai sumber daya demi mencapai tujuan secara efektif, efisien, dan inovatif. Di dalam buku Manajemen karya Stephen P. Robbins disebutkan beberapa tujuan pengorganisasian, sebagai berikut.
a.    Membagi pekerjaan ke dalam tugas-tugas dan departemen yang spesifik.
b.   Menugaskan pekerjaan dan tanggung jawab yang terkait dengan pekerjaan individu.
c.    Mengoordinasikan beragam tugas organisasi.
d.   Menghimpun berbagai pekerjaan ke dalam unit-unit.
e.    Menjalin hubungan di antara individu, kelompok, dan departemen.
f.    Membuat hierarki wewenang yang formal.
g.   Mengalokasikan dan menempatkan sumber sumber daya organisasi.

1.   Konsep Manajemen Kepemimpinan
Pada hakikatnya, kepemimpinan itu ialah sebagai bagian dari proses manajemen untuk membentuk tujuan-tujuan organisasi, memotivasi perilaku ke arah pencapaian tujuan tersebut demi kemakmuran dan kesejahteraan para anggota yang berada di bawahnya dalam suatu ruang lingkup organisasi yang dipimpinnya.
Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul pada abad 18. Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain.
a.    Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler dan Nassarik, 1961:24).
b.   Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel dan Coons, 1957:7).
c.    Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch dan Behling, 1984:46)
d.   Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs dan Jacques, 1990:281).
     Dari pengertian tersebut, cukup jelas bahwa organisasi membutuhkan manajemen sekaligus kepemimpinan agar lebih efektif dan efisien.
     Kepemimpinan diperlukan untuk menciptakan perubahan sedangkan manajemen diperlukan untuk menciptakan keteraturan, dimana kita dapat terbantu untuk lebih cekatan dalam menerima setiap problematika yang ada dan kita temui.
     Manajemen bersama kepemimpinan dapat menciptakan perubahan yang tertib, dan kepemimpinan bersama manajemen menjaga organisasi agar tetap selaras dengan lingkungannya.

2.   Fungsi Manajemen Kepemimpinan
Dalam hal ini, yang bertindak sebagai pemegang peranan dan fungsi manajemen ialah seorang manajer atau pemimpin.
Henry Fayol, seorang pengusaha Prancis, mengatakan bahwa setiap manajer menjalankan empat buah fungsi, yakni sebagai berikut.
a.    Perencanaan, mendefinisikan sasaran-sasaran, menetapkan strategi, dan mengembangkan rencana kerja untuk mengelola aktivitas-aktivitas.
b.   Penataan, menentukan apa yang harus diselesaikan, bagaimana caranya, dan siapa yang akan mengerjakannya.
c.    Kepemimpinan, memotivasi, memimpin, dan tindakan-tindakan lainnya yang melibatkan interaksi dengan orang-orang lain.
d.   Pengendalian, menegawasi aktivitas-aktivitas demi memastikan segala sesuatunya terselesaikan sesuai rencana. 

3.   Karakteristik Seorang Pemimpin
Disamping itu, terdapat pula pendekatan sistematis yang menganalisis tentang karakteristik seorang pemimpin, dilihat dari aspek pribadi, psikologis, dan fisik. Para peneliti berpikir bahwa karakteristik yang membedakan pemimpin dengan nonpemimpin ialah dilihat dari intelegensinya, ketegasan, tinggi di atas rata rata, kosakata yang baik, daya tarik, keyakinan diri, dan atribut atribut yang serupa.
         Selanjutnya, para peniliti kemudian mulai menliti variabel-variabel lain, khususnya perilaku atau tindakan-tindakan dari pemimpin, yakni sebagai berikut.
a.    Perilaku yang berpusat pada pekerjaan
Rensis Likert ( Ricky W. Griffin , 2004:73) mengemukakan bahwa perilaku yang berpusat pada pekerjaan ialah perilaku pemimpin yang memberi perhatian besar pada pekerjaan bawahan dan prosedur-prosedur yang terkait dengan pekerjaan yang bersangkutan.
b.   Perilaku yang berpusat pada karyawan
Rensis Likert ( Ricky W. Griffin , 2004:73) mengemukakan bahwa perilaku yang berpusat pada karyawan ialah perilaku yang lebih tertarik pada membangun grup kerja yang padu dan memastikan bahwa karyawan puas pada pekerjaan mereka.
Pembahasan mengenai seluk beluk manajemen diatas kurang cukup apabila tanpa membicarakan berbagai imbalan dan tantangan dalam menjadi seorang manajer. Karena para manajer seringkali harus berhadapan dengan beraneka ragam karakter orang dan juga dituntut untuk menyelesaikan tugas dengan sumber daya yang terbatas. Lebih dari itu, memotivasi para pekerja di tengah situasi yang kacau dan penuh ketidakpastian adalah tugas yang amat menantang.
Berikut penjabaran yang lebih rinci mengenai imbalan dan tantangan seorang manajer menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya manajemen, yakni sebagai berikut.
1.   Imbalan
a. Dapat menciptakan lingkungan kerja dimana para anggota organisasi dapat memberikan kemampuan terbaik mereka dalam bekerja.
b.   Memiliki kesempatan untuk berpikir kreatif dan berimajinasi.
c.   Membantu orang lian menemukan makna dan pencapaian di dalam kerja.
d.   Mendukung, mendidik, dan membina orang lain.
e.   Bekerja dengan bermacam-macam orang.
f.    Mendapatkan pengakuan dan status di dalam organisasi maupun di dalam masyarakat.
g.   Memegang peranan dalam mempengaruhi pencapaian organisasi.
h.   Mendapatkan kompensasi yang layak dalam bentuk gaji, bonus, dan opsi saham.
i.    Seorang manajer yang baik selalu dibutuhkan oleh organisasi manapun.
2.   Tantangan
a.   Harus bekerja keras.
b.   Boleh jadi harus lebih banyak mengemban tugas yang bersifat klerikal (administratif) ketimbang manajerial.
c.   Harus berurusan dengan beraneka ragam karakter orang.
d.   Seringkali dituntut menyelesaikan tugas dengan sumber daya yang terbatas.
e.   Memotivasi para pekerja dalam situasi yang kacau dan penuh ketidakpastian.
f.    Memadukan pengetahuan, keahlian, ambisi, dan pengalaman dari beragam kelompok orang.
g.   Keberhasilannya bergantung pada kinerja orang lain.

Terlepas dari uraian diatas, keberhasilan suatu organisasi tetap berada pada upaya bersama dari orang-orang yang bermotivasi tinggi dan penuh semangat, yang bekerja secara bahu-membahu agar sebuah organisasi mencapai sasarannya.

4.   Peran-peran Pemimpin    
a.    The Vision Role
Sebuah visi adalah pernyataan yang secara relatif mendeskripsikan aspirasi atau arahan untuk masa depan organisasi. Dengan kata lain sebuah pernyataan visi harus dapat menarik perhatian tetapi tidak menimbulkan salah pemikiran.
Agar visi sesuai dengan tujuan organisasi di masa mendatang, para pemimpin harus menyusun dan manafsirkan tujuan-tujuan bagi individu dan unit-unit kerja.
b.   Peran Pemimpin dalam Pengendalian dan Hubungan Organisasional
Tindakan manajemen para pemimpin organisasi dalam mengendalikan organisasi meliputi.
1. mengelola harta milik atau aset organisasi.
2.  mengendalikan kualitas
kepemimpinan dan kinerja organisasi;
3.   menumbuhkembangkan serta mengendalikan situasi maupun kondisi kondusif yang berkenaan dengan keberadaan hubungan dalam organisasi.
Dan peran pengendalian serta pemelihara / pengendali hubungan dalam organisasi merupakan pekerjaan kepemimpinan yang berat bagi pemimpin. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan, seni dan keahlian untuk melaksanakan kepemimpinan yang efektif.
Ruang lingkup peran pengendali organiasasi yang melekat pada pemimpin meliputi pengendalian pada perumusan pendefinisian masalah dan pemecahannya,pengendalian,pendelegasian wewenang,   pengendalian uraian kerja dan manajemen konflik.
Ruang lingkup peran hubungan yang melekat pada pemimpin meliputi peran pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja; pengelolaan tata kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi; pembukaan, pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi serta perwakilan bagi organisasinya.
c.    Peran Membangkitkan Semangat
Salah satu peran yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin yaitu peran membangitkan semangat. Peran ini dapat dijalankan dengan  cara memberikan pujian dan dukungan. Pujian dapat diberikan melalui penghargaan dan insentif. Penghargaan merupakan bentuk pujian yang tidak berbentuk uang, sementara insentif adalah pujian yang berbentuk uang atau benda yang dapat dikuantifikasi. Pemberian insentif hendaknya didasarkan pada aturan yang telah disepakati bersama dan transparan. Insentif akan efektif dalam peningkatan semangat kerja jika diberikan secara tepat, artinya sesuai tingkat kebutuhan karyawan yang diberi insentif, dan disampaikan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi, serta diberikan dalam suatu “event” khusus.
Peran membangkitkan semangat kerja dalam bentuk memberikan dukungan, bisa dilakukan melalui kata-kata, baik langsung maupun tidak langsung, dalam kalimat-kalimat yang sugestif. Dukungan juga dapat diberikan dalam bentuk peningkatan atau penambahan sarana kerja, penambahan staf yag berkualitas, perbaikan lingkungan kerja, dan semacamnya.
d.    Peran Menyampaikan Informasi
Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi; artinya walaupun produk dan layanan purna jual perusahaan tersebut bagus, tetapi jika komunikasi internal dan eksternalnya tidak bagus, maka perusahaan itu tidak akan bertahan lama karena tidak akan dikenal masyarakat dan koordinasi kerja di dalamnya jelek. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya.
5.  Konsep Organisasi
Secara umum, pengertian organisasi ialah suatu wadah dimana didalamnya terdapat seorang pemimpin dan beberapa anggota yang memiliki visi dan misi yang jelas guna mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien demi kemajuan organisasinya. Kemajuan organisasi itu sendiri bergantung pada aktivitas dan kualitas pemimpin yang dapat diandalkan.

6.   Model dan Desain Organisasi
     Dalam buku yang sama, berdasarkan penjelasan dari tujuan tersebut muncul enam elemen yang tertuang sebagai proses pengambilan keputusan, yaitu : spesialisasi kerja, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi dan desentralisasi, dan formalisasi.
Selain itu, organisasi juga memilik model dan desain, yaitu.
a.    Organisasi mekanistik, merupakan struktur yang kaku dan terkontrol ketat yang dicirikan dengan spesialisasi yang tinggi, departementalisasi yang kaku, rentang pengendalian yang sempit, formalisasi yang tinggi, jaringan informasi yan terbatas (biasanya komunikasi atas-bawah), dan sedikitnya partisipasi dalam pengambilan keputusan oleh para pekerja level bawah.
b.   Organisasi organik, yaitu suatu struktur yang amat adaptif dan fleksibel.

7.   Esensi dari Pengendalian dalam Organisasi
Menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya Manajemen, pengendalian menyediakan berbagai cara bagi organisasi untuk beradaptasi  dengan perubahan-perubahan lingkungan, untuk membatasi akumulasi kesalahan, untuk mengatasi kompleksitas organisasi, dan untuk meminimisasi biaya. Keempat fungsi pengendalian tersebut penting untuk dibahas secara lebih mendetail.
a.    Beradaptasi dengan Perubahan Lingkungan
Dalam lingkungan bisnis yang kompleks dan bergejolak dewasa ini, semua organisasi harus berhadapan dengan perubahan.
Bergantung pada diri masing masing pemimpinnya dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu perubahan, harus pintar menempatkan diri agar mampu diterima di segala aspek.
b.   Membatasi Akumulasi Kesalahan
     Kesalahan-kesalahan dan kecerobohan-kecerobohan kecil biasanya tidak menimbulkan kerusakan serius terhadap kesehatan keuanganan sebuah organisasi. Namun, dari waktu ke waktu, kesalahan kecil bisa terakumulasi dan menjadi sangat serius. Untuk itu, segala bentuk kesalahan baiknya diakomodir dengan baik dan segera mengambil peneyelesaiannya.
c.    Mengatasi Kompleksitas Organisasi
Memerlukan system yang canggih untuk menegakkan penegndalian yang memadai dalam sebuah organisasi, mislanya produksi di perusahaan.
d.   Meminimalisasi Biaya
Jika dipraktekan secara efektif, pengendalian dapat membantu mengurangi biaya dan meningkatkan output.
8.   Pengaruh Seorang Pemimpin dalam Suatu Organisasi
Drath (2001) memberikan satu kritik yang menarik mengenai teori leadership, dominansi diri (teori trait dan kepemimpinan yang karismatik) dan pengaruh interpersonal (kepemimpinan transformatif, kepemimpinan transaksional dan teori kontingensi).
Pengaruh dari seorang pemimpin itu sangatlah bergantung pada perspektif anggota-anggotanya, karena pada dasarnya seorang pemimpin itu ialah sebuah ikon ataupun contoh bagi bawahannya. Mulai dari kebijakan yang ia ambil merupakan titik tolak yang dapat mengukur seberapa jauh pengetahuan dan wawasan yang ia miliki.
Seorang pemimpin itu memiliki wewenang yang dominan dari anggotanya, keberhasilan sebuah organisasi ada pada upaya seorang pemimpin itu sendiri bagaimana ia merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi kinerja sekelompok orang tersebut dengan bantuan berbagai sumber daya demi mencapai tujuan secara efektif, efisien, dan inovatif.
Teori konsep diri sendiri menekankan internalisasi nilai, identifikasi sosial dan pengaruh pimpinan terhadap kemampuan diri dengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi. Pada sisi lain, penjelasan psikoanalitis tentang karisma memberikan kejelasan kepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadi dengan pemimpin tersebut.

C.  Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, cukup jelas bahwa manajemen merupakan bagian integral dari kepemimpinan, dimana keduanya memiliki hubungan yang saling bertaut dari segi substansi dan praktiknya, karena ketika kita membicarakan tentang kepepimpinan pasti tak akan lepas dengan kegiatan manajerialnya. Dalam hubungan organisasi berikut kelangsungannya, manajemen juga merupakan istilah yang identik dengan kepemimpinan, sebab pada hakikatnya peranan yang diemban oleh seorang pemimpin itu tak jauh dari manajemen yang sangat membantu kelangsungan  dan kelancaran demi kemajuan serta kesejahteraan anggotanya dalam suatu organisasi tersebut sesuai asas dan fungsi dari manajemen itu sendiri, yakni mampu merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi kinerja para anggota-anggota dengan berbagai bantuan sumber-sumber daya yang tersedia secara efektif, efisien, dan inovatif. Kendati demikian, keberhasilan sebuah organisasi itu juga tetap melekat pada kualitas para anggotanya yang memiliki kepentingan untuk berkontribusi secara proporsional, memiliki motivasi untuk mengembangkan dan mewujudkan visi misi organisasi itu sendiri  dalam mencapai tujuan bersama.

D.  Daftar Pustaka
Griffin, Ricky  W.2004. Manajemen.   
      Jakarta : Erlangga.
Robbins, Stephen P dan Mary Coulter.
      2010.Manajemen Jilid 1.Jakarta :  
      Erlangga
Robbins, Stephen P dan Mary  
      Coulter.2010.Manajemen Jilid 2.
      Jakarta : Erlangga
Thohiron, Dion.2012.Definisi
     Kepemimpinan[online].Tersedia :  
Winarto.2007.Teori Kepemimpinan 
     [online]. Tersedia http://nursepoint.