Langit kala itu, memenuhi selaput mataku, namun ia begitu jauh...

Minggu, 30 Juni 2013

Kunang-kunangku Telah Pergi

Dahulu...
Ketika aku berusia sekitar lima tahun, masih sangat lucu imut dan menggemaskan, dengan setting tempat di pemukiman yang cukup jauh dari peradaban, keadaan malam itu terekam jelas di benakku. Cahaya itu... bernama "kunang-kunang". Awal ku melihatnya, ia begitu jauh, tak nampak jelas lekuk bentuknya seperti apa, namun ku merasakan terangnya. SubhanAllah. ia ciptaan Allah Yang Maha Agung. Ia begitu indah, begitu ramah menemani gelapnya malam.
"Sesungguhnya kita diciptakan dari Allah dan akan dikembalikan pula kepadaNya."
Kunang-kunang itu telah pergi sekarang, tak pernah ku temui kembali, padahal aku sangat rindu, ingin merasakan dekat dengannya, memahami anatomi tubuhnya.
Apa daya... ia sejati milik Allah.

Sabtu, 29 Juni 2013

Beliau itu...

Beliau hendak menangis...
Entah mengapa ada satu hal yang tertahan hingga kerlingan air matanya tak sampai melewati dagu.
Beliau itu...
Baru beberapa jam aku mengenalnya. Ia mendekatiku, menyapaku dengan penuh kerinduan. Maklum, beliau sudah 6 tahun hidup sebatang kara, tiga anaknya yang diantaranya sebaya dengan ku (kata beliau) serta suaminya sudah pergi lebih dahulu menghadap sang Illahi. Kejadian gempa yang memporak-porandakan rumahnya, memukul habis harta yang beliau miliki, mengharuskan beliau hidup tanpa rumah. Bisa dibayangkan? Seorang ibu, sudah renta, menapaki hidup tanpa kasih sayang yang tulus dari orang terdekatnya. Makan sehari itu sudah bersyukur, dari dzuhur hingga isya yang masuk ke perutnya cuma empat gelas air mineral, beliau seraya memukul perutnya, "kembung neng...".
Allahurobbi... Malu, nunduk, iba dan segalanya bercampur jadi satu. AKU? masih kuat, masih punya keluarga yang insyaAllah ikhlas menyayangiku dan memenuhi kebutuhanku masih sempatnya mengeluh?
Beliau memelukku erat. Dengan tutur Sundanya beliau mengaku sempat mati suri selama dua hari akibat tertimpa batu saat kejadian tersebut, sempat dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi di bagian kepala dan lehernya. Terlihat bekas jahitannya.
Bu... kuatlah... tak ada yang sulit selama kita mau berusaha dan berdo'a.
Yang sabar Bu...
Aku akan lebih kuat darimu, melunaskan harapanku untuk menemui saudara saudara sepertimu.

Tak ada nikmat yang perlu didustakan.